Kamis, 23 Juli 2026

sejarah 12

Rabu, 22 Januari 2025

Cara mendidik anak dalam Islam

 






Mendidik anak secara Islami sedini mungkin tidak hanya membuat anak menjadi orang beragama namun juga dapat membentuk karakter dan akhlak yang mulia. Bahkan, didikan Islami ini dapat menjadi salah satu bekal bagi anak untuk ke akhirat nantinya. Berikut sejumlah caranya sesuai dengan Al-Qura’n dan Hadist:


1. Memperdengarkan Al-Qur’an
Waktu terbaik untuk mulai memperkenalkan dan memperdengarkan sang anak dengan Alquran bukanlah saat sudah baligh atau setelah bisa membaca dan menulis. Namun, mulailah sejak si kecil berada di dalam kandungan. 

Sang ibu atau ayah dapat secara rutin mengaji atau memutar ayat-ayat Alquran. Selain membuat si kecil terbiasa dengan firman-firman Allah, konon memperbanyak mengaji juga dapat memberi rasa tenang dan insya Allah mendatangkan keberkahan.

2. Ajarkan Dasar-dasar Agama
Setiap orang tua Muslim wajib memberikan dasar-dasar agama kepada anak sejak kecil. Adanya didikan ini akan menumbuhkan iman pada anak sehingga nantinya dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat iman atau tidak mudah goyah. 

Beberapa contoh dasar-dasar agama adalah mengajarkan anak membaca basmalah setiap kali akan makan, baca doa sebelum keluar rumah, membiasakan salam, mengenalkan bacaan-bacaan solat, dan sebagainya.

3. Ajarkan Tauhid
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, “hai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan merupakan kezaliman yang besar (QS. Al-Luqman: 13).

Tauhid adalah ilmu yang menyatakan tentang keesaan Allah. Ilmu ini perlu diajarkan sejak usia dini agar bisa menjadi pondasi dari keimanan sang anak. 

4. Tutur Kata Lembut
Mendidik anak dalam Islam jangan sebatas teori namun juga harus dibarengi dengan praktik langsung dari kedua orang tua. Maka, jadilah orang tua yang selalu bertutur kata lembut, bijaksana, dan memberi pengajaran dengan kasih sayang. 

5. Beri Nama yang Baik
Sebagian orang tua di luar sana ada yang dengan sengaja memberi nama unik atau ‘nyeleneh’ kepada anak agar menjadi viral. Padahal dalam Islam, salah satu kewajiban orang tua sekaligus hak anak adalah mendapat nama panggilan yang baik. 

Sebab, Islam meyakini bahwa nama merupakan doa, sehingga harus mengandung arti yang baik. Beberapa contoh nama yang baik dalam Islam adalah Muhammad, Aisyah, Ahmad (terpuji), Akram (mulia), Ali (pangeran), dan Adnan (tenang).

6. Bacakan Kisah-kisah Nabi
Menurut ilmu parenting, kebiasaan membacakan buku cerita kepada anak terutama sebelum tidur akan berdampak bagus untuk otak dan mempercepat anak untuk bisa bicara. 

Selain buku bacaan umum, buku kisah-kisah nabi juga dapat menjadi pilihan. Jadi sejak kecil, anak sudah memiliki wawasan tentang nabi-nabi dan dapat dijadikan suri teladan.

7. Ajarkan Adab
Salah satu anjuran mendidik anak dalam Islam menurut Rasulullah adalah mengajarkan adab yang baik. Jika dalam Islam, adab bukan hanya sikap kepada sesama manusia namun juga kepada diri sendiri saat sedang melakukan sesuatu. Contohnya ada banyak dan berikut beberapa di antaranya:

Saat minum harus sambil duduk, tidak boleh berdiri.
Makan dan minum dengan tangan kanan.
Ucap doa sebelum dan setelah makan / minum.
Tidak boleh mencela makanan, meskipun rasanya kurang enak atau tidak sesuai selera. Jika memang tidak suka, sebaiknya tinggalkan namun tanpa mencela.
Jangan masuk rumah orang lain sebelum diberi izin, meskipun rumah saudara atau teman dekat sekalipun.
Buang hajat harus di tempat tertutup dan baca doa sebelum masuk ke toilet, namun setelah di dalam tidak boleh membaca ayat Al-Quran.
Saling menyapa dan mengucap salam saat bertemu dengan sesama Muslim.
Jika mendapat undangan, maka usahakan untuk datang.
Menjenguk orang sakit.
Jika sudah baligh, tidak boleh tidur malam sebelum solat isya’, dan disarankan untuk berwudhu sebelum tidur. 
Baca doa sebelum dan saat bangun tidur.
8. Ajarkan Sedekah
Mendidik anak dalam Islam lainnya adalah tentang sedekah. Jika ingin memiliki anak yang suka berbagi kepada sesama, maka ajarkan sedekah sejak dini. Tidak harus berupa hal besar, namun bisa dimulai dengan sesuatu yang kecil.

9. Ajarkan Sikap Sederhana
Salah satu sikap Rasul yang dapat menjadi teladan bagi si kecil adalah hidup sederhana. Meskipun Nabi Muhammad SAW merupakan kekasih Allah yang sudah dijamin masuk surga, namun Rasul tidak pernah tinggi hati atau angkuh kepada sesama. 

Bahkan beliau merupakan pemimpin umat Muslim yang sangat sabar dan low profile. Ajarkan anak untuk hidup sederhana, tidak suka memamerkan harta, tidak membeli apapun secara berlebihan, dan ajarkan rasa syukur. 

Sebanyak apapun harta jika di hati tidak ada rasa syukur, maka akan terus merasa kurang. Jangan sampai saat sudah dewasa nanti, sang anak tumbuh menjadi sosok yang gengsi dan selalu ingin memiliki barang-barang mewah yang mungkin saja menjerumuskannya pada hutang yang mengandung riba.

10. Beritahu Perbedaan Gender
Banyak orang tua yang mengabaikan didikan ini padahal sebenarnya sangat penting. Orang tua harus mengajarkan perbedaan anak laki-laki dan perempuan serta batasan apa saja yang perlu ada di antara keduanya. Misalnya, anak laki-laki tidak boleh mandi bersama anak perempuan meskipun belum baligh.

11. Perhatikan Teman-teman Anak
Sosialisasi akan menjadi salah satu hal yang tidak dapat terhindarkan sebagai makhluk hidup. Namun, ajarkan anak untuk tidak sembarangan berteman. Pastikan bahwa lingkungan pertemanan si kecil memang baik / positif.

Tata cara makan Dan minum

















Ajaran Islam tidak hanya mengatur soal ibadah, tetapi menjadi pedoman dalam kehidupan manusia. Aktivitas makan dan minum pun turut diatur dalam Islam sebagai adab yang perlu dijalankan seorang muslim.
Makan dan minum dalam Islam tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan untuk hidup, tetapi juga menjadi rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt. Oleh karena itu, makan dan minum sesuai adab dan ajaran Islam yang dicontohkan melalui Nabi Muhammad SAW tidak hanya memberi manfaat, tetapi juga memberi pahala bagi muslim.

Apa Saja Adab Makan dan Minum dalam Islam?
1. Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan
Dari segi kesehatan, mencuci tangan sebelum makan menjadi suatu kewajiban demi menjaga kebersihan dan terhindar dari penyakit. Hal ini, juga telah dianjurkan Rasulullah kepada umat Islam yang hendak makan, sesuai dengan sabdanya:

"Telah bercerita kepada kami Affan, telah bercerita kepada kami Qais bin Ar Rabi', telah bercerita kepada kami Abu Hasyim, dari Zadzan, dari Salman al-Farisi berkata: 'Aku membaca dalam Taurat: Berkah makanan adalah berwudhu selepasnya, lalu aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah SAW dan aku memberitahukan apa yang aku baca kepada beliau, beliau bersabda: 'Berkah makanan adalah dengan berwudhu sebelum dan sesudahnya''." (Sunan Abu Daud h.257)

2. Membaca Bismillah/Doa Sebelum Makan dan Minum
Bacaan bismillah menjadi hal yang wajib dibaca sebelum muslim mengerjakan sesuatu, termasuk makan dan minum. Jika lupa membaca di awal, seorang muslim tetap harus membacanya ketika teringat dengan mengucap "Bismillah awwalahu wa akhirahu".

"Apabila salah seorang kalian makan suatu makanan, maka hendaklah dia mengucapkan bismillah (dengan nama Allah), dan bila dia lupa di awalnya hendaklah dia mengucapkan 'Bismillah fii awwalihi wa akhirihi' (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya)" (HR. Ahmad, al Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

3. Makan dan Minum Menggunakan Tangan Kanan
Rasulullah mewajibkan muslim untuk makan dan minum menggunakan tangan kanan. Beliau melarang makan dengan tangan kiri, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Muslim dan Tirmidzi:

Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah di antara kalian ada yang makan dengan tangan kirinya dan jangan pula minum dengan tangan kirinya. Karena setan makan dengan tangan kirinya, dan minum dengan tangan kirinya." (HR Muslim & Tirmidzi, dari Ibnu Umar).

4. Mengambil Makanan yang Terdekat
Rasulullah menganjurkan muslim untuk makan dari pinggir atau makanan yang berada di dekatnya demi menjaga kesopanan. Meski demikian, seorang muslim boleh mengambil makanan yang ada di depan orang lain jika memang menu di dekatnya kurang disukai, asalkan dengan cara yang baik.

Dari Umar bin Abi Salam berkata: "Ketika aku masih kecil aku berada di bawah pengasuhan Rasulullah SAW dan tanganku pernah bergerak (ke sana ke mari) di dalam piring besar, maka Rasulullah SAW berkata kepadaku, 'Wahai anak bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang dekat denganmu.' Maka selanjutnya cara makanku seperti itu." (Al-Bukhari dalam kitab al-ath'imah, bab tasmiyah 'ala 'al-tha'am wa akli 'ala al-yamin, hadis no. 4957).

5. Disunnahkan Makan dengan Tiga Jari
Disebutkan dalam hadits bahwa makan dengan tiga jari merupakan sunah yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Namun, apabila tidak memungkinkan menggunakan tiga jari, Al-Nawawi menyebut boleh menggunakan empat hingga lima jari.

"Dan di antara pelajaran hadit adalah disunnahkan makan dengan tiga jari, dan janganlah seseorang menggunakan jari yang keempat dan kelima, kecuali karena suatu 'udzur (alasan yang membolehkan), seperti jika makanannya berupa kuah atau selainnya yang tidak mungkin memakannya dengan tiga jari, dan alasan-alasan lainnya." (An-Nawawi dalam Syarkh Muslim).

6. Tidak Makan Sambil Berdiri
Nabi Muhammad menganjurkan umat Islam untuk makan dan minum dengan posisi duduk tegak. Beliau melarang makan dan minum sambil berdiri.

"Dari Abu Said bahwa Nabi SAW melarang minum sambil berdiri," (HR Ahmad dan Muslim).

7. Tidak Meniup Makanan atau Minuman
Secara keilmuan, makanan dan minuman yang ditiup tidak baik untuk kesehatan karena tercampur zat yang keluar dari mulut. Hal itu juga telah dilarang Nabi Muhammad dan menganjurkan untuk menunggu suhu makanan menjadi hangat atau dingin.

"Dari Ibnu Abbas RA, Nabi Muhammad SAW melarang pengembusan nafas dan peniupan (makanan atau minuman) pada bejana." (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

8. Tidak Mencela Makanan
Jika seseorang tidak menyukai makanan, maka Rasulullah menganjurkan untuk meninggalkan makanan itu tanpa mencelanya. Hal ini, demi menghargai orang yang telah memasak makanan tersebut.

"Nabi SAW tidak pernah mencela makanan sekalipun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya)." (HR. Bukhari no 5409 dan Muslim no 2064).

9. Tidak Makan Berlebihan atau Terlalu Kenyang
Islam melarang segala hal yang sifatnya berlebihan karena tidak baik. Begitu juga Rasulullah melarang makan secara berlebihan hingga terlalu kenyang.

Dari Miqdam bin Ma'diy Karb berkata aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seseorang mengisi perutnya sehingga bagaikan bejana (mengisi) kejahatan (penyakit) dengan menadahkan beberapa suap yang dapat meluruskan tulang sulbinya. Jika ia tidak berbuat demikian, maka sepertiganya untuk makanannya, sepertiganya untuk minumannya, dan sepertiganya untuk bernafas." (Ibnu Majah no. 3340).

10. Disunnahkan Menjilati Jari Setelah Makan
Rasulullah menganjurkan membersihkan jari dengan menjilati setelah selesai makan. Hal ini, dianjurkan demi mencari keberkahan yang bisa saja berada dari sisa-sisa makanan yang menempel di jari.

Berbicara kepada kami Annufailiyyu, berbicara kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Hisyam bin Urwah, dari Abdurrahman bin sa'din, dari Ibnu Ka'ab bin Malik, dari Ayahnya, "bahwasannya Rasulullah SAW makan dengan tiga jari dan tidak mengelap tangannya sehingga dia menjilatinya" (Sunan Abu Daud, Bab Ath 'Imah, hlm 691, no hadits 52).

11. Membaca Doa Setelah Makan dan Minum
Membaca doa menjadi bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Saat selesai makan dan minum, doa juga harus diucapkan seorang muslim sesuai sabda Nabi Muhammad SAW.

Rabu, 15 Januari 2025

FOTO PROFILE


 

Kamis, 02 Mei 2024

Zakat

 


Zakat



Zakat adalah sebuah praktik ibadah di mana orang Islam memberikan 2,5% dari hartanya untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan.



Hukum Zakat

Di dalam Al-Quran, amalan tentang zakat disebutkan beberapa kali. Seperti dalam surat Al-Araf ayat 156, orang-orang yang akan diberi kebahagiaan di akhirat adalah orang yang menunaikan zakat.



Jenis-Jenis Zakat

Bagi umat Islam, ada dua jenis zakat yang harus ditunaikan yaitu zakat fitrah dan zakat mal.





1. Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang harus dibayarkan bagi seorang muslim yang sudah mampu untuk menunaikannya dan berkecukupan. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib ditunaikan satu kali dalam setahun. Waktu membayar zakat fitrah umumnya dilakukan pada bulan ramadhan, biasanya menunaikan zakat fitrah dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri. Selain itu, yang membedakan zakat fitrah dengan zakat yang lainnya adalah, zakat fitrah diharuskan untuk ditunaikan sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri.



Zakat fitrah memiliki arti yaitu mensucikan harta. Hal ini karena di setiap harta seseorang adalah sebagiannya milik dari orang lain, terlebih lagi orang yang membutuhkan. Selain itu, harta yang ada pada manusia bukanlah milik mereka semua, namun itu adalah titipan dari Allah SWT seperti yang dijelaskan pada Buku Pintar Puasa Ramadhan, Zakat Fitrah, Idul Fitri, Idul Adha.



2. Zakat Mal

Zakat mal adalah zakat harta. Sesuatu dapat disebut dengan harta apabila memenuhi syarat-syarat tertentu seperti dapat dimiliki, disimpan atau dikuasai, dapat diambil manfaatnya sesuai dengan harta tersebut. Contoh dari harta misalnya rumah, mobil, tanah, hewan ternak, emas dan perak.



 Syarat Zakat

Seperti yang sudah dijelaskan berdasarkan pengertian zakat, maka untuk melakukan zakat harus mengikuti beberapa syarat. Berikut adalah syarat wajib untuk menunaikan zakat:

Islam
Merdeka
Mukallaf atau akil baligh atau sudah dewasa
Tidak punya hutang
Memiliki harta yang cukup
Harta milik sendiri